Wednesday, March 4, 2009

My Artikel on Kendari Ekspres

Sekedar menumpahkan ide-ide yang mengendap dalam otak, nih ada artikel yang aku tulis dimuat dalam Kendari Ekspres On Line beberapa waktu yang lalu

DIMENSI HISTORI-SPASIAL KOTA BAU-BAU DALAM WACANA PROVINSI


Pada dasarnya kelahiran suatu kota adalah sebuah proses sejarah yang panjang dengan memperlihatkan perkembangan dan perubahan baik pada kondisi fisik maupun nonfisik. Perubahan fisik kota dapat dilihat pada bangunan dan perkampungan lama masyarakat, sementara perubahan nonfisik kota dapat dilihat pada perkembangan ekonomi dan politik masyarakat kota. Aktivitas ekonomi, budaya, politik, dan sosial pada masa lalu banyak dilakukan melalui laut sehingga menyebabkan kota berkembang di wilayah pantai dan pinggir sungai. Sejarah membuktikan bahwa perdagangan paling ramai dan mudah dilakukan adalah melalui sungai dan laut. Akibatnya muncul pemukiman-pemukiman di sekitar sungai dan pantai. Pemukiman itu pada perkembangannya berubah menjadi kota seiring dengan adanya interaksi antara penduduk asli dengan pendatang setelah melalui proses yang panjang. Hal ini dapat dilihat pada dinamika suku yang mendiami kota dengan kepentingan yang berbeda-beda. Adanya variasi jenis pekerjaan atau profesi di kota sebagai gejala kekotaan yang lebih kompleks.

Kota Bau-Bau seperti tertera pada judul artikel ini dimaksudkan penulis merujuk pada wilayah Kesultanan Buton yang berasosiasi langsung dengan Wolio sebagai pusat pemerintahan dan hubungannya dengan wilayah-wilayah disekitarnya dimasa lalu.



Belum banyak literatur tertulis yang mengulas secara rinci mengenai bagaimana sistem pembagian kekuasaan dalam dimensi geopilitik di zaman Kesultanan Buton. Salah satu literatur yang dapat dijadikan pedoman adalah kumpulan tulisan Pim Schoorl mengenai “Masyarakat, Sejarah dan Budaya Buton” yang ditulis dalam perspektif sejarah dan antoropologi. Mengenai gambaran konfigurasi kekuasaan secara geo-politik, Schoorl menuliskan “ Ekspansi pertama kerajaan Wolio dilancarkan melalui persekutuan dengan sembilan wilayah lain, yang dikenal sebagai Siolipuna. Keputusan kedua yang mengatur hubungan khusus dengan wilayah-wilayah kesultanan ialah keputusan mengenai Barata. Dapat kita bedakan empat barata: Muna (setidak-tidaknya bagian utara Pulau Muna), Tiworo (Bagian dari Muna Utara dan beberapa pulau dekat pantai), Kulingsusu (bagian utara Pulau Buton) dan Kaledupa (salah satu pulau dikepulauan tukang besi). Barata dianggap sebagai mata rantai sangat penting yang membuat -bahtera negara- kuat dan seimbang sehingga akan dapat berlayar dengan baik.”



Dalam literatur lain oleh Sejarahwan UGM Laode Rabani menuliskan sebagai berikut: “Perkembangan Bau-Bau (Buton) sebagai sebuah kota dapat dilihat ketika Buton menjadi ibukota Afdeeling Sulawesi Timur pada tahun 1911. Pada tahun 1915, Afdeling Buton dan Laiwui (Kendari) digabungkan dengan Bungku dan Mori yang dipusatkan di Buton sebagai ibukota Afdeeling Oost Celebes. Dampak langsung kebijakan ini adalah pembangunan dan perbaikan fasilitas kota berupa sarana pelabuhan dan jaringan jalan. Selain itu, pendirian asrama militer dan perumahan, air bersih, telepon, sekolah, serta fasilitas transportasi darat. Semua itu merupakan bagian dari politik ekonomi Belanda, karena pada kenyataanya pemerintah Hindia Belanda mengambil keuntungan dari semua fasilitas yang disediakan itu dalam bentuk pajak dan tenaga kerja.”



Dari kedua ulasan diatas dapat ditarik benang merah mengenai betapa penting dan vitalnya posisi Bau-Bau dari masa kemasa. Namun demikian, sejak pemisahan Provinsi Sulawesi Selatan-Tenggara menjadi 2 provinsi baru yakni Sulawesi Selatan dengan ibukota Ujung Pandang dan Sulawesi Tenggara dengan ibukota Kendari pada tahun 1959 serta tidak terpilihnya Bau-Bau (Buton) sebagai ibukota Provinsi menyebabkan laju pertumbuhan kota ini menjadi stagnan dan bergerak lambat. Selain posisi Bau-Bau yang disatu sisi sebagai Kota Administratif dan disisi yang lain sebagai ibukota Kabupaten Buton mengakibatkan dualisme kepemimpinan. Hal inilah yang menyebabkan pertumbuhan Kota Bau-Bau (Buton) menjadi begitu lambat dan terkesan statis atau paling tidak sangat lambat bila dibandingkan dengan saat ini. Beruntung, berkat adanya UU No. 22 tahun 1999 yang kemudian direvisi menjadi UU No. 32 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah pada tahun 2001 Bau-Bau dimekarkan dan dinaikkan statusnya menjadi Kotamadya sehingga memiliki wewenang otonom sendiri yang dibawahi oleh seorang walikota. Pada akhirnya, Kota Bau-Bau saat ini telah berkembang dengan begitu pesatnya. Pembangunan sarana dan prasarana serta infrastruktur kota dipacu sedemikian sehingga kota ini telah berubah wujud menjadi kota pantai (water front city) sebagai ciri khasnya. Disisi lain, kota ini juga sengaja didesain sebagai bakal calon ibukota provinsi Buton Raya yang saat ini sedang giat-giatnya dicanangkan pembentukannya.


Provinsi Buton Raya; Transformasi Spasial dan Historis?

Belakangan ini, konstalasi pemerintahan di Sulawesi Tenggara sedang mengalami dinamika dengan mencuatnya wacana pemekaran beberapa kabupaten di wilayah eks kesultanan Buton. Berita paling aktual mengenai hal ini bahwa draf RUU telah sampai kegedung DPR pusat dan siap untuk dikaji dan disahkan bersamaan dengan pemekaran Kabupaten Buton Tengah dan Buton Selatan. Tercatat beberapa momentum yang menjadikan riak-riak dalam upaya pemekaran khususnya pemekaran Buton Raya ini. Tentunya setelah beberapa persoalan intern mengenai wilayah Kabupaten mana saja yang akan ikut bergabung dalam provinsi baru tersebut terselesaikan. Pertama adalah pernyataan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla pada saat Silaturahmi KKST di Jakarta yang seakan-akan kurang mendukung pemekaran Buton Raya. Kedua, tindakan anarkis yang dilakukan para demonstran yang pro terhadap upaya pembentukan Provinsi Tapanuli (PROTAP) yang akhirnya berbuntut pada kematian Ketua DPRD Sumatra Utara. Belum lagi pernyataan Presiden SBY dimedia yang menekankan untuk mengurangi upaya pemekaran karena banyak menimbulkan konflik yang berujung pada tindakan anarkis. Namun demikian, semoga saja riak-riak tersebut tetap tidak menyurutkan langkah para penggagas dan konseptor Buton Raya untuk tetap maju memperjuangkan pembentukan Provinsi ini dengan dukungan penuh seluruh masyarakat.

Dari tinjauan spasial dan sejarah paling tidak upaya membangun gagasan pembentukan daerah otonom baru ini ditujukan untuk mengembalikan kejayaan Kesultanan Buton sebagai arkeologi kejayaan sejarah dimasa lalu.



Dalam sebuah artikelnya mengenai Masyarakat Buton, peneliti LIPI; Riwanto Tirtosudarmo menuliskan sebagai berikut, “Gagasan untuk membentuk Provinsi Buton Raya muncul kepermukaan bersamaan dengan euforia reformasi pasca-Soeharto (1998) para tokoh masyarakat dan elit politik yang berasal dari Buton telah memendam keinginan untuk bisa lepas dari pengaruh kekuasaan politik yang berpusat di Kendari. Ingatan kolektif yang masih kuat melekat tentang tidak terpilihnya Bau-Bau sebagai ibukota provinsi ketika Sulawesi Tenggara berdiri sendiri terlepas dari Provinsi Sulawesi Selatan-Tenggara yang beribukota di Makassar, merupakan dorongan yang kuat untuk suatu saat lepas dari pengaruh Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara. Para pemimpin Buton merasa bahwa Bau-Bau lah yang seharusnya menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara dan bukan Kendari, karena sesungguhnya Bau-Bau lah yang saat itu menjadi pusat perdagangan disamping pusat sejarah dan kebudayaan Buton. Kota Bau-Bau merupakan pusat dari Kesultanan Buton yang memiliki wilayah kekuasaan yang meliputi Pulau Buton, Pulau Muna, Kepulauan Tukang Besi dan sebagian daratan jasirah Sulawesi. Bagi para pemimpin dan tokoh masyarakat Buton mengembalikan kejayaan dan kewilayahan Kesultanan Buton merupakan impian lama yang merupakan ingatan kolektif yang sangat kuat dan dipelihara hingga saat ini. Adanya peninggalan bekas istana Sultan Buton beserta masjid yang sampai saat ini masih menjalankan tradisi dan ritual keagamaan Islam; merupakan bukti masih kuatnya identitas kolektif sebagai Orang Buton”.

Tampak dari tulisan tersebut, seolah-olah ada kaitan yang begitu kental antara aspek sejarah dalam upaya membangun gagasan pembentuan Provinsi Buton Raya. Dalam aspek historis dan spasial, seakan-akan terjadi transformasi dengan membangun sebuah mimpi romantisme masa lalu mengenai kejayaan Kesultanan Buton. Hal ini dapat dipahami, dengan berbagai upaya penyatuan beberapa wilayah eks kesultanan Buton tersebut dalam sebuah wadah provinsi. Faktanya, upaya ini menemui jalan buntu dengan runtuhnya harapan agar Kabupaten Muna dan Kabupaten Bombana ikut bergabung dalam wilayah provinsi baru tersebut karena secara teritorial kedua wilayah tersebut masuk dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Buton pada masanya. Bahwa kenyataannya secara geopolitik tidak akan terjadi pengulangan sejarah sebagaimana upaya transformasi spasial dan sejarah yang diinginkan. Namun demikian, tekad telah bulat untuk tetap memisahkan diri dan membangun pemerintahan baru dengan Bau-Bau sebagai ibukota sekaligus juga sebagai simbol identitas kesultanan Buton.


Masyarakat Buton pada umumnya dan para elit lokal yang turut terlibat langsung tidak sedang bermain dadu dengan mempertaruhkan sejarah masa lalu sebagai tumbal. Persoalannya, sanggupkah sistem pemerintahan demokrasi modern seperti saat ini menterjemahkan sistem kesultanan yang dalam istilah Schoorl adalah negara muda (early state) dimasa lalu agar nantinya diperoleh resultan berupa kesejahteraan, kemakmuran masyarakat Buton? Hal ini lah yang perlu dibuktikan secara nyata oleh pemerintahan baru yang sebentar lagi akan segera terbentuk. Bukan sekedar gontok-gontokan memperebutkan posisi dan jabatan baru sehingga melupakan roh pembentukan provinsi itu sendiri. Kondisi geografis, topografi, morfologi, karakteristik sumberdaya alam dan seterusnya menunjukkan bahwa Buton dan sekitarnya adalah wilayah pesisir dan kepulauan yang membutuhkan pengelolaan dan penerapan kebijakan yang berbeda dengan wilayah lain di Sulawesi Tenggara pada umumnya. Dengan demikian, akan semakin memperkuat alasan bahwasannya sejarah kejayaan Kesultanan Buton dimasa lalu bukanlah sebab, melainkan adalah sebuah akibat mengapa Buton mestinya berdiri dalam sebuah tatanan masyarakat dalam kerangka sebuah daerah yang otonom.

[+/-] Selengkapnya...

Monday, February 16, 2009

Pulau Batu Atas Bergeser

Bagaimana jika posisi daratan ataupun pulau yang anda pijak begeser didalam peta? Tentunya anda tidak akan terima bukan? Suatu saat saya menemukan sebuah kasus mengenai hal tersebut. Kebetulan saya memiliki beberapa seri data Rupa Bumi Indonesia (RBI) pulau Buton dan sekitarnya yang saya peroleh dari beberapa kolega. Dan katanya, data RBI tersebut berasal dari Bakosurtanal, instansi yang bertanggung jawab terhadap standarisasi survey dan pemetaan nasional. Saat akan menggunakannya, saya menemukan bahwa ada satu pulau yang bergeser dan tidak matching ketika melakukan overlay. Ya, pulau itu adalah Pulau Batu Atas yang secara administratif terletak di Kabupaten Buton, Prov. Sulawesi Tenggara. Posisinya yang masuk dalam jajaran pulau kecil karena letaknya yang berada ditengah-tengah Laut Flores membuat pulau ini seakan terlupakan.

Gambar tersebut diatas menunjukkan vektor disebelah utara Pulau Buton. Terlihat Batu Atas terletak sangat dekat dengan Siompu.

Sepintas tidak akan terlihat kejanggalan dari peta diatas. Tapi coba perhatikan jika peta tersebut dioverlaykan dengan citra. Akan tampak pergeseran yang saya maksudkan diatas.















[+/-] Selengkapnya...

Friday, February 13, 2009

Perubahan Iklim dan Sirkulasi Laut

Setelah sekian lama fakum entah karena melakoni peran sok sibuk ataukah mood menulis yang tak kunjung datang akhirnya blog ini baru sempat update lagi. Maklumlah saat ini saya harus dihadapkan oleh desakan untuk mengajukan draf proposal tesis (emangnya nyusun draf proposal membuat orang sibuk ya…???) yang topiknya pun blom saya dapatkan. Hehehe….(ada yang mau nyumbang ide gak?). Tapi, ah sudahlah mungkin saya butuh sedikit waktu dan ketenangan agar bisa konsentrasi menentukan topik penelitian yang akan saya lakukan nanti .Blom lagi kesibukan pekerjaan yang rasanya gak pernah ada habisnya. Cieee….Sok sibuk bgt gue….Loh, kok jadi curhat gini ya…Ok..Ok..Sebetulnya saat inipun saya lagi gak mood nulis, tetapi karena paksaan yang datang dari dalam diri sendiri bahwa blog ini harus update maka saya memaksakan diri untuk nulis. So, maaf ya klo terkesan tidak fokus. Udah ah pengantarnya, jangan panjang-panjang. Ntar pembacanya keburu muak. Hehehe..
But, anyway... Sebetulnya saat ini saya sedang tertarik untuk memahami fenomena climate change yang sampai saat ini masih tetap booming sebagai world issue. Rupanya issue yang satu ini tidak lagi menjadi issue dikalangan para scientist saja tetapi telah melebar menjadi konsumsi publik dan masuk kedalam jajaran issue politik, sosial, ekonomi bahkan budaya.

Berbagai laporan dan hasil publikasi ramai menulis kesimpulan para ahli yang menyatakan bahwa perubahan iklim dunia disebabkan oleh kegiatan manusia seperti konsumsi bahan bakar fosil yang berlebihan. Peningkatan penggunaan kendaraan, listrik dan plastik yang berlebihan serta perusakan hutan yang sedang terjadi saat ini. Pemanasan global diindikasikan dengan adanya perubahan cuaca yang ekstrim dan bencana alam dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (kesimpulan diatas saya sadur dari prakata Adaptation Booklet Indonesia yang diterbitkan oleh FoE Jepang – Yayasan BINTARI yang salah satu penulisnya adalah Dr. Rizaldi Boer dosen kami sewaktu kuliah dulu). Tetapi bagaimana jika fenomena ini kita telusuri dari sudut pandang ilmu kelautan? (menurut saya ini topik menarik loh….)
Beberapa literatur mengatakan bahwa laut dan iklim adalah dua hal yang saling mempengaruhi. Namun demikian dinamika atmosfer, lautan dan daratan adalah hubungan yang sangat kompleks dan begitu rumit. Mungkin Secara ringkas dapat digambarkan bahwa hubungan tersebut dibangun atas dasar hukum fisika yakni suhu dan perpindahan panas. Laut dan daratan adalah fluida yang berbeda dalam hal kapasitas menyimpan panas.
Peningkatan suhu air (lautan) berlangsung lebih lambat, tetapi air dapat menyimpan panas lebih lama dibandingkan dengan daratan. Hal ini terjadi karena air mempunyai panas spesifik yang tinggi. Panas spesifik adalah jumlah energi yang dibutuhkan untuk meningkatkan suhu 1 gram air sebesar 1 ˚C. Angin yang berhembus melewati bentangan permukaan air dapat menghambat peningkatan atau penurunan suhu udara secara drastis pada wilayah daratan disekitarnya. Oleh sebab itu, iklim diwilayah kepulauan atau dekat pantai akan lebih sejuk untuk daerah tropis dan lebih hangat untuk wilayah lintang diutara Tropic of Cancer (misalnya bagian utara pantai barat Amerika Serikat dan Kanada) atau diselatan Tropic of Capricorn (misalnya kepulauan Selandia Baru). Lebih lanjut perbedaan menyimpan dan melepaskan panas tersebut akan berpengaruh terhadap sirkulasi angin dunia yang akhirnya akan mempengaruhi sirkulasi laut.
Sirkulasi laut adalah pergerakan massa air di laut. Sirkulasi laut di permukaan dibangkitkan oleh stres angin yang bekerja di permukaan laut dan disebut sebagai sirkulasi laut yang dibangkitkan oleh angin (wind driven ocean circulation). Selain itu, ada juga sirkulasi yang bukan dibangkitkan oleh angin yang disebut sebagai sirkulasi termohalin (thermohaline circulation) dan sirkulasi akibat pasang surut laut..
Sirkulasi di permukaan membawa massa air laut yang hangat dari daerah tropis menuju ke daerah kutub. Di sepanjang perjalanannya, energi panas yang dibawa oleh massa air yang hangat tersebut akan dilepaskan ke atmosfer. Di daerah kutub, air menjadi lebih dingin pada saat musim dingin sehingga terjadi proses sinking (turunnnya massa air dengan densitas yang lebih besar ke kedalaman). Hal ini terjadi di Samudera Atlantik Utara dan sepanjang Antartika. Air laut dari kedalaman secara perlahan-lahan akan kembali ke dekat permukaan dan dibawa kembali ke daerah tropis, sehingga terbentuklah sebuah siklus pergerakan massa air yang disebut Sabuk Sirkulasi Laut Global (Global Conveyor Belt). Semakin efisien siklus yang terjadi, maka akan semakin banyak pula energi panas yang ditransfer dan iklim di bumi akan semakin hangat. Mengenai Ilustrasi gambar Sabuk Sirkulasi Laut Global (Global Conveyor Belt) tersebut bisa dilihat disini.

Demikianlah kondisi alamiah yang disimpulkan oleh para ahli. Nah, sekarang pertanyaannya adalah bagaimana jika sirkulasi laut dan iklim ini terganggu?? Dalam konteks ini siapa yang mempengaruhi apa? Apakah sirkulasi laut mempengaruhi iklim ataukah sebaliknya perubahan iklim yang mempengaruhi sirkulasi laut? Lalu apakah perubahan iklim yanng dimaksud adalah akumulasi dinamika iklim lokal oleh karena berbagai aktivitas manusia? Pada dasarnya alam akan terus dinamis dan selalu menuju ketitik keseimbangan bila diberi perlakuan tertentu.
Melalui beberapa mekanisme interaksi fisis dan kimiawi, sirkulasi laut dapat mengubah dan mempengaruhi waktu simpan karbon dioksida yang diinjeksikan ke laut dalam, dan hal itu secara tidak langsung akan mengubah tempat penyimpanan karbon di lautan dan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer, demikian dikatakan oleh Atul Jain, seorang profesor sains atmosfer. “Dimana karbon dioksida dinjeksikan akan menjadi isu yang sangat penting”.
Profesor Jain bersama mahasiswa pasca sarjananya Long Cao telah membangun sebuah model terintegrasi iklim-laut-biosfer-siklus karbon yang diberi nama Integrated Science Assessment Model yang memungkinkan untuk mengkaji secara luas interaksi fisis dan kimiawi antar komponen individual dalam sistem bumi, juga siklus karbon, perubahan iklim dan sirkulasi laut.
Menurut Jain, pemahaman yang baik tentang perubahan iklim, sirkulasi laut, siklus karbon di laut dan feedback mechanisms adalah sangat penting dalam membuat sebuah proyeksi yang dapat dipercaya tentang kandungan karbon dioksida di atmosfer dan akibatnya terhadap perubahan iklim. Model ini telah diuraikan/dibahas dalam Journal of Geophysical Research - Oceans edisi September 2005 dengan judul “An Earth system model of intermediate complexity: Simulation of the role of ocean mixing parameterizations and climate change in estimated uptake for natural and bomb radiocarbon and anthropogenic CO2“
Dengan menggunakan model ini, Jain dan Cao mempelajari efektivitas sequestrasi karbon di lautan dengan cara menginjeksikan karbon dioksida ke lokasi-lokasi dan kedalaman yang berbeda di dasar lautan.
Mereka menemukan bahwa perubahan iklim memiliki pengaruh yang besar terhadap kemampuan laut menyimpan karbon dioksida. Efeknya terlihat nyata terutama di Samudera Atlantik. Penemuan ini dimuat dalam journal Geophysical Research Letters edisi bulan Mei dengan judul: “Assessing the effectiveness of direct injection for ocean carbon sequestration under the influence of climate change” .
Begitu pentingnya peran laut dalam hubungannya dengan fenomena climate change. Dalam skala mikro, berbagai aktivitas manusia seperti kalimat pembuka diatas mungkin akan mempengaruhi dinamika perubahan iklim lokal suatu wilayah tertentu. Hal ini tentu sangat bergantung kepada karakteristik bentang lahan dan berbagai kondisi fisik wilayah tersebut. Tetapi dalam skala makro, tentu dinamika dan interaksi antara laut, darat dan atmosfer merupakan fenomena yang super kompleks.
Dalam Bulan Mei 2009 mendatang, akan diselenggarakan World Ocean Conference (WOC)—sebagai upaya membangun kesepakatan terhadap pemanfaatan pengelolaan sumber daya laut. Yang bertempat di Sulawesi Utara. Harapannya, semoga dalam konferensi tersebut akan dihasilkan berbagai produk kebijakan yang salah satunya membahas tentang pentingnya laut sebagai pendendali iklim dunia. Semoga saja….


[+/-] Selengkapnya...

Wednesday, November 26, 2008

WMO : Gas Rumah Kaca Capai Rekor Tinggi pada 2007

Republika Online
Rabu, 26 November 2008

JENEWA--Gas rumah kaca di atmosfir terus naik pada 2007, dengan konsentrasi karbon dioksida mencapai tingkat rekor baru, demikian pernyataan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Selasa.

Jumlah paling akhir yang disiarkan di dalam Greenhous Gas Bulletin 2007 WMO memperlihatkan karbon dioksida mencapai 383,1 bagian per juta (ppm), naik 0.5 persen dari 2006.

Konsentrasi nitrou oxide juga mencapai rekor tinggi pada 2007, naik 0,25 persen dari tahun sebelumnya, sedangkan methane naik 0,34 persen, melampaui nilai tertinggi yang sejauh ini tercatat pada 2003.

Dengan menggunakan indeks gas rumah kaca NOAA Annual, dampak pemanasan total semua gas rumah kaca yang berumur panjang dihitung telah naik sebesar 1,06 persen dari tahun sebelumnya dan sebesar 24,2 persen sejak 1990, kata WMO dalam suatu pernyataan.

Kegiatan manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil dan pertanian, adalah pembuang utama gas tersebut, yang diakui banyak ilmuwan sebagai pengendali perubahan iklim dan pemanasan global.
Setelah uap air, empat gas utama rumah kaca di atmosfir adalah karbon dioksida, methane, nitrous oxide dan chloro fluoro carbon (CFC).

Menurut data WMO, tingkat CFC terus turun secara perlahan, yang dapat dipandang sebagai pesan baik.
Itu memperlihatkan keberhasilan yang terus dicapai oleh Protokol Montreal untuk mengurangi buangan bahan perusak ozon, kata WMO.

[+/-] Selengkapnya...

Kamali Beach dan Tragedi Ruang Publik

Kota adalah simbol peradaban. Tinggi rendahnya sebuah peradaban manusia bisa dilihat dari takaran kompleksitas fisik dan struktur sosial sebuah kota. “City air makes you free,” cetus pepatah Jerman kuno. Ini karena kota adalah artefak terbesar dari aspirasi budaya manusia. Tempat mimpi beradu dan ambisi hidup bebas bersaing.
Artikel ini aku tulis karena motivasi setelah melihat fakta tentang peradaban kota yang sering aku baca. Bolehlah iseng-iseng menterjemahkan berbagai konsep dan teori dan melihat kondisi real dan fakta yang ada dilapangan.
Pembahasan ini aku mulai dengan sebuah istilah “Ruang Publik”. Mengapa Ruang publik? Karena ditempat inilah terjadi peleburan multi dimensi yang berpotensial memunculkan adab kehidupan yang baru dari sebuah masyarakat. Atau dengan kata lain, sejatinya disanalah masyarakat menyatu dan mewujudkan diri dalam sebuah komunitas. Menurut Marco Kusuma Wijaya, Ruang Publik atau yang sering juga diistilahkan dengan Public Space, adalah tempat orang bertemu sesama warga, saling bergaul dan mewujudkan diri mereka sebagai tubuh kolektif masyarakat. Selain itu juga, ruang publik juga berfungsi untuk mereproduksi adab kehidupan bersama dan membahas masalah-masalah bersama.
Dalam tradisi hidup berkota (Being Urban), ”Ruang Publik adalah elemen terpenting dalam peradaban kota. Ia menjadi wadah lahirnya kerekatan sosial yang bisa membawa kota menuju masyarakat madani atau Civil Society. Dalam sejarahnya, seperti diwacanakan Habermas, ruang publik atau ”Offentlichkeit” ini menjadi wadah dari institusi kelas menengah yang punya pengaruh kuat dalam proses revolusi sosial.

Ruang Publik sejatinya adalah ruang demokratis tempat bertemunya semua khalayak. Ia milik semua orang. Ia menjadi tempat manusia bertoleransi terhadap perbedaan. Ia menjadi di tempat manusia berlatih menghadapi kejutan-kejutan sosial. Pada puncaknya, toleransi pluralisme pada ruang publik ini akan mendorong lahirnya konsepsi Public Domain, yaitu wacana tempat kita mendiskusikan ruang publik atau bertukar pikiran antar grup sosial yang berbeda. Media publik seperti halnya koran, televisi dan ruang maya di internet, kemudian menjadi sarana dalam bernegosiasi di ruang publik tadi. Syaratnya, Public Domain ini haruslah independen.
Pantai Kamali, bagi masyarakat Kota Bau-Bau pada khususnya dan masyarakat Buton pada umumnya tentu sangat mengenal tempat yang satu ini. Saat ini ia seakan-akan telah menjadi simbol bagi Kota Bau-Bau. Pantai Kamali adalah merupakan hasil reklamasi pantai yang berada dipesisir pantai Kota Bau-Bau (depan istana ilmiah). Secara teoritis ia dapat dimasukkan kedalam kategori Ruang Publik. Status dan fungsinya tentu tidak berbeda jauh dengan Losari Beach ataupun Kendari Beach di Makassar dan Kendari.
Faktanya adalah Ruang Publik ternyata berpotensi membentuk strata ekonomi secara sengaja ataupun tidak. Atau dengan kata lain, pada kenyataannya munculnya ruang-ruang publik telah melegitimasi dan memaksa kelompok-kelompok masyarakat tertentu menjadi kelompok terpinggirkan ataupun dimarginalkan.

Hadirnya pengamen, anak jalanan, pengemis dan peminta-minta, telah memberikan efek negatif terhadap pembangunan ruang-ruang publik. Benarkah kondisi idealnya memang seperti demikian? Benarkah munculnya kelompok-kelompok marginal ini adalah salah satu akibat lepasnya kontrol pemerintah? Rasa-rasanya saya tidak pernah menyaksikan atau paling tidak jarang menemukan munculnya kelompok-kelompok marjinal tersebut saat kawasan sepanjang pesisir Pelabuhan Murhum ini belum direklamasi.
Konsep perkembangan kota dinegara-negara berkembang seperti Indonesia adalah serangkaian proses transformasi dari kota yang berkarakter tradisional-feodalistik menuju kota modern-kapitalistik. Dan pada kenyataannya, karakter sosio-kultural masyarakat kita belum siap dan belum mampu menterjemahkan proses ini. Salah satu ciri kota tradisional adalah munculnya kelompok-kelompok yang saling bertarung dan memperebutkan ruang dan kekuasaan. Kalau demikian, benar apa yang pernah dikemukakan oleh oleh JO Santoso, bahwa dalam perkembangannya kota-kota di Indonesia tidak mengenal ruang publik. Setiap ruang yang ada selalu menjadi perebutan antar kelompok, dan dalam hal ini, usaha pemerintah untuk tetap “netral” selalu sia-sia. Di sini adalah soal representasi. Kota terdiri dari ruang-ruang yang membedakan satu sama lain. Ruang glamor, ruang kumuh, ruang perempuan, ruang formal, dan ruang kelas menengah merupakan klasifikasi kultural atau pembagian spasial yang nyata di masyarakat (Barker, 2005:417). Ruang-ruang tersebut saling diperebutkan. Di sini terjadi tindakan menutup-nutupi atau menghilangkan ruang yang disebut kumuh, negatif dan informal.
Inilah salah satu bukti bahwa proses transformasi seperti yang dikemukakan diatas agak terhambat dikarenakan kita belum siap untuk melepas identitas kelompok dan lebih mengedepankan kebersamaan, konsensus dan menjadikan ruang publik sebagai ruang milik bersama.
Sudah saatnya kini setiap pemerintah daerah dan kota memperhatikan kondisi-kondisi kecil semacam ini. Mesti ada perubahan paradigma yang mendasar dari proses perencanaan tata ruang agar pada akhirnya tidak hanya mempercantik dan menempatkan sebuah ruang sesuai dengan kemampuan dan peruntukannya. Namun lebih dari itu, paradigma tersebut harus meperhatikan keseimbangan antara faktor tata bangunan dan potensi perubahan sosio-kultural masyarakat setempat. Satu catatan bahwa, secara umum hampir seluruh kota-kota di Indonesia masih menghadapi permasalahan kota yang sama. Arus urbanisasi yang relatif tinggi dari tahun ketahun menimbulkan berbagai permasalahan kota seperti pengangguran, kemiskinan, tingkat kriminalitas yang tinggi dan sebagainya. Dan hal ini selalu dengan mudahnya kita temui dalam ruang-ruang publik. Hal ini memang telah diprediksikan oleh para pakar. Point yang ingin digaris bawahi adalah konsep perencanaan fisik yang disusun demikian sempurna mesti bersifat fleksibel dan juga benar-benar menyentuh aspek sosial budaya masyarakat setempat. Jangan sampai proses pembangunan fisik tersebut malah menjadi bumerang dan mengakibatkan perubahan pola pikir dan kehidupan masyarakat kearah yang tidak menentu. Proses yang dalam istilah Sunardi sebagai “Advocacy planning” ini sangat diperlukan demi kepentingan masyarakat, dan sebagai penjaga keseimbangan agar konsep penataan ruang tetap berjalan diatas rel yang telah ditentukan.
Berangkat dari sekelumit permasalahan penataan ruang tersebut diatas, pada kenyataannya menunjukkan bahwa kota bukanlah sekedar tata kota. Disana ada berbagai integrasi persoalan seperti budaya, sosiologi dan berbagai persoalan lainnya yang menyatu dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Sudah saatnya memandang persoalan perkotaan secara komprehensif dan penuh kehati-hatian. Sampai hari ini Jakarta, Bandung, Surabaya dan berbagai kota besar lainnya belum juga tuntas menyelesaikan persoalan perkotaan yang kian hari kian bertambah kompleks. Seluruh kota-kota termasuk Kota Bau-Bau akan menghadapi persoalan yang sama jika kota-kota besar diatas tetap dijadikan rujukan dan kiblat bagi arah pembangunan perkotaan. Konsep pembangunan perkotaan tetap saja berada pada proses “trial and error”. Perlu pemikiran yang mendalam untuk memecahkan berbagai persoalan perkotaan. Akhirnya, ada baiknya upaya kembali untuk meredefinisi konsep modern seperti apa yang diamanatkan dalam tujuan jangka pendek, menengah maupun jangka panjang Kota Bau-Bau. Sebuah proses yang panjang untuk dapat menentukan arah yang jelas dan tepat sasaran dari modern yang dimaksud. Jangan modern yang samar, pseudo makna atau sekedar pasrah terbawa arus globalisasi dan modernisasi yang salah kaprah.

Sumber:
Koestoer, R.H. 2001. Dimensi Keruangan Kota; Teori dan Kasus. Penerbit UI Press. Jakarta.
Santoso, JO. 2006. Menyiasati Kota Tanpa Warga. Penerbi CENTROPOLIS. Jakarta.
Syahreza, A. 2006. The Innocent Rebel; Sisi Aneh Orang Jakarta. Penerbit Gagas Media. Jakarta.
www.baubau.go.id

[+/-] Selengkapnya...

Kota, Sistem Kota dan Wilayah Belakangnya (Bagian 1 dari 2 Tulisan)

Kota merupakan tempat bergabungnya berbagai hal dan merupakan kumpulan keanekaragaman banyak hal. Berbagai strata masyarakat bergabung dalam satu tempat yang sama, yakni kota. Begitu juga dengan kegiatan ekonomi. Begitu banyak kegiatan ekonomi saling melengkapi dan saling bergantung. Kota juga merupakan simbol dari kesejahteraan, kesempatan berusaha dan dominasi terhadap wilayah sekitarnya. Namun kota juga merupakan sumber polusi, kemiskinan dan perjuangan untuk berhasil. Gejala kota yang seperti ini telah terjadi sejak munculnya pusat-pusat permukiman yang kemudian dikenal sebagai kota. Saat ini, apa yang istimewa pada sebuah kota?

Pengaruh globalisasi adalah faktor utama yang membuat keadaan berbeda dari masa yang lampau. Globalisasi menyebabkan tekanan pada kota di suatu wilayah menjadi lebih keras daripada sebelumnya (Massey, Allen dan Pile, 1999). Dunia saat ini telah ‘tenggelam’ dan menyebabkan hanya dua hal yang muncul (Allen, Massey, dan Pryke, 1999). Yang pertama adalah jaringan aktivitas yang sifatnya mendunia. Sebagai contoh, sebuah perusahaan transnasional bisa memiliki jaringan produksi di berbagai negara, berlakunya nilai-nilai global yang berlaku di berbagai belahan dunia, dan juga penggunaan berbagai produk dunia yang diakibatkan oleh promosi yang gencar, seperti minuman Coca Cola dan produk Microsoft.

Yang kedua adalah lebih kerapnya kontak di antara berbagai tempat. Pada saat ini kegiatan di suatu tempat tidak dapat dipisahkan dari kejadian yang berlangsung di tempat yang lain. Peristiwa ditabraknya gedung WTC di New York menghancurkan harga saham di berbagai perusahaan, ledakan bom di kereta bawah tanah Kota London meningaktkan kesibukan seluruh petugas bandar udara di berbagai kota dunia, naiknya harga minyak bumi memperparah keadaan ekonomi negara yang masih sangat bergantung pada pasokan minyak bumi dari luar negeri, dan berbagai kejadian lain.



Kedua gejala ini sudah sangat nyata mempengaruhi kota-kota tua seperti London, Tokyo, Singapura, ataupun Jakarta. Di kota-kota tua, percampuran berbagai jenis kegiatan industri, kelompok sosial dan pergerakan manusia, serta barang dan informasi, sudah lama berlangsung dan telah menjadi karakteristik kota-kota tersebut. Namun gejala tersebut saat ini juga mulai nampak di kota-kota lain, yang bukan merupakan pusat pertumbuhan negara, seperti Bristol ataupun Semarang. Mengapa gejala ini juga berpengaruh pada kota-kota menengah?

Jaringan aktivitas yang mendunia dan kerapnya kontak dengan tempat-tempat lain merupakan gejala yang muncul. Gejala ini dalam bentuk tingginya perjalanan masuk dan ke luar tempat-tempat tersebut, adanya migrasi, menyebarnya informasi melalui televisi, dan promosi guna meningkatkan pola hidup konsumtif. Dengan kemajuan teknologi,
kota-kota menengah tidak dapat terlepas dari pengaruh berbagai media, baik elektronik maupun media cetak. Perjalanan antar tempat juga tidak mengalami kendala lagi. Teknologi transportasi saat ini telah mampu mengatasi jarak fisik antar tempat yang berjauhan. Bahkan komunikasi tidak perlu lagi dilakukan dalam bentuk tatap muka, tetapi secara maya.

HUBUNGAN DI DALAM KOTA
Hubungan Sosial dan Ekonomi
Apa yang bisa diceritakan dari Gambar di atas? Gedung tinggi yang berada di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta merupakan sebuah gedung perkantoran dengan kegiatan jasa sebagai kegiatan utama. Ratusan juta rupiah uang dikelola oleh perusahaan-perusahaan yang berada di gedung tersebut. Karyawan yang bekerja di gedung tersebut berpenghasilan tinggi, mencapai puluhan juta rupiah. Mereka makan di restoran mahal dengan sajian menu dari berbagai negara, bepergian ke mencanegara dengan menggunakan fasilitas perjalanan terbaik, tinggal di apartemen atau perumahan mewah di seputar Jakarta, serta bergaul hanya dengan teman-teman yang memiliki pola kehidupan yang serupa, baik yang ada di Indonesia maupun di negara lain. Sementara
itu di sisi gedung perkantoran tersebut terdapat bangunan sederhana dan tampak kumuh. Mereka yang tinggal di bangunan tersebut hidup dengan penghasilan yang hanya cukup

untuk makan, menu makanannyapun sangat sederhana dan hanya berfungsi untuk mengganjal perut. Mereka tidak pernah melakukan perjalanan jauh, tidak juga makan di restoran. Pergaulan mereka hanya seputar teman kerja dan tetangga di sekitar tempat tinggal.

Itulah kehidupan perkotaan. Mereka yang dekat di mata belum tentu menjadi teman dekat. Kehidupan yang bersisian tersebut tidak berarti mereka saling kenal, apalagi berteman. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan perkotaan memiliki berbagai bentuk yang bisa saling tidak saling bersinggungan.
Gambar diatas juga merupakan gambaran kehidupan di perkotaan. Kedua kelompok sosial masyarakat dalam gambar menampakkan hubungan yang ‘akrab’ dan sepertinya saling mengenal. Satu kelompok sosial adalah mereka yang berkecukupan dengan kehidupan yang sudah mapan. Sedang kelompok yang satu lagi adalah mereka yang berpenghasilan secukupnya dan tidak punya jaminan apapun bagi hidupnya. Kedua kelompok ini saling tergantung, yang satu membutuhkan yang lain. Tanpa kelompok yang berada, tidak akan tercipta kebutuhan pelayanan seperti yang dilakukan oleh kelompok sosial yang kedua. Sedangkan kelompok sosial yang pertama, walau berkecukupan secara ekonomi, tetapi tidak mungkin melakukan segala sesuatu sendiri. Karena saling membutuhkan inilah maka tercipta keakraban di antara mereka, walaupun sesungguhnya mereka tidak saling mengenal.

Dari contoh di atas, sesungguhnya ada tiga kunci suatu kota.

1. As sites of proximity and co-presence

2. As mix of space/times

3. As meeting places
Hubungan Secara Fisik

Sejak dahulu kala, hubungan antar bagian-bagian sudah dilakukan dengan menggunakan berbagai macam media fisik yang dikenal sebagai jalur. Jalur-jalur yang menjadi penghubung antar ruang di gedung-gedung dibentuk oleh selasar. Selasar ini dibatasi oleh pintu sehingga dapat dikatakan bahwa selasar adalah penghubung antar pintu Antara satu gedung dengan gedung yang lain dihubungkan dengan jalur jalan. Antar bagian kota dihubungkan, selain dengan jalur jalan pejalan kaki atau jalur mobil, dapat juga dihubungkan dengan jalur rel kereta. Penghubung antar bagian di dalam kota dilakukan melalui jalur pergerakan dalam berbagai bentuknya. Jalur-jalur tersebut memungkinkan komunikasi antar bagian di dalam gedung, di dalam kota, bahkan dengan tempat-tempat yang berjauhan. Hubungan fisik ini memudahkan hubungan antara tempat tinggal manusia, tempat bekerjanya, tempat rekreasi dan berbagai tempat dengan karakteristiknya masing-masing.

Dengan kemajuan teknologi, hubungan antar tempat tidak harus selalu dilakukan secara fisik. Hubungan antar individu atau antar lembaga dapat dilakukan dengan cara surat menyurat, atau berkomunikasi melalui telepon. Untuk mengetahui keadaan suatu tempat yang jauh, atau bahkan tempat yang kita tidak ketahui keberadaannya, kita dapat mengunjungi World Wide Web (www) yang dilakukan melalui internet. Layanan ini menyajikan halaman-halaman penuh informasi dalam berbagai bentuk seperti narasi, table, gambar, grafik, peta, maupun foto-foto. Informasi ini juga dapat dengan segera diperbaharui saat ada perubahan informasi. Dan untuk mendapatkan informasi tersebut kita tidak perlu mengenal atau berkomunikasi dua arah dengan sumbernya.
(BERSAMBUNG...)

[+/-] Selengkapnya...

Wednesday, September 5, 2007

Mendadak Saleh

Petris Pontoh, seorang aktris MTV ternama tiba-tiba harus menanggalkan ketenarannya dan membanting setir menjadi seorang penyanyi dangdut disebuah organ tunggal keliling. Anda tentu masih ingat dengan skenario sebuah film lokal tersebut. Ya, anda tidak salah itu adalah potongan cerita yang ada didalam film "Mendadak Dangdut" yang dibintangi oleh Titi Kamal. Dalam film itu diceritakan bagaimana perjuangan seorang artis populer berjuang melawan ego keartisannya ketika ia harus berhadapan dengan realitas.
Bagaimana seandainya saya menganalogikan kisah tersebut dan kemudian menyematkannya dalam kehidupan beragama kita saat ini?

Dalam hitungan beberapa hari lagi, umat Islam diseluruh dunia akan menyambut datangnya bulang Ramadhan, bulan yang penuh rahmat dan ampunan. Semua orang bergembira, bersuka cita tidak terkecuali kita, umat muslim yang ada ditanah air. Berbagai persiapan pun dilakukan untuk menyambut sang bulan suci.
Apa sesungguhnya makna puasa bagi kita? Apakah ia hanyalah sebentuk ritual menahan lapar seharian penuh yang wajib dilakukan secara rutin dalam konteksnya untuk mencari pahala yang sebanyak-banyaknya? Kemudian setelah itu kita menangisi dan meratapi serta berharap bertemu lagi ketika ia pergi seiring dengan bergantinya bulan. Singkat kata ia datang, kita jalankan sebagai kewajiban, setelah itu pergi dan kita kembali kekehidupan kita masing-masing. Seolah tidak berbekas. Kita seolah-olah shock dan kaget. Masjid-masjid tiba-tiba penuh sesak oleh jamaah yang ingin melaksanakan ibadah shalat tarawih berjamaah yang hanya berlabel sunnah. Banyak orang tiba-tiba menjadi dermawan dengan berbagai motif. Lihatlah stasiun-stasiun TV, berbagai program pun mulai digelar untuk menyambut bulan ramadhan. Sebetulnya tidak ada yang aneh, saya pun sama sekali tidak bermaksud sinis memvonis bahwa apa yang dilakukan oleh media-media seperti yang saya contohkan adalah sebuah kesalahan. Tetapi mengapa frekuensi itu hanya akan lebih tinggi saat bulan ramadhan tiba saja? Kenapa simbol keimanan kita dramatisir didepan Tuhan? Kenapa kita seolah-olah kaget dengan perputaran waktu yang saat ini menunjuk bulan ramadhan dalam kalendernya? Aktris-aktris yang biasanya tampil glamour, tiba-tiba tampil dengan busana yang serba islami. Mereka yang jarang mengucapkan kalimat-kalimat Allah tiba-tiba fasih mengucapkan seruan kebaikan dan amal. Ustad dan ustadzah dadakan bermunculan, mereka tampil musiman hanya berdakwah pada bulan ramadhan saja. Dzikir-dzikir berjamaah digelar dimana-mana, acara menangis dan merintih mengharap ampunan Allah didepan ditelevisi digelar tanpa kenal waktu. Singkatnya kita semua "mendadak saleh".

Rupanya, wahyu yang berbunyi bahwa "Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertakwa" hanya diartikan secara skriptual. Lalu apa yang terjadi? Kesadaran yang terbangun hanya lah sebuah kesadaran semu untuk menjalankan ibadah dan mendapatkan pahala. Kesadaran itupun akan musnah seiring berakhirnya bulan Ramadhan itu sendiri. Ternyata semangat kefithrian justru dianggap sebuah kemenangan dan akhir dari perjuangan melawan hawa nafsu, bukan sebaliknya dijadikan sebagai latihan untuk menghadapi sebelas bulan berikutnya.

Ada apa ini? Kenapa kesalehan hanya ditunjukkan saat Ramadhan tiba saja? Ramadhan yang kita jalani terasa kering, hampa tanpa makna. Ramadhan ibarat hanya sebuah rutinitas tahunan, yang kita jalankan karena kewajiban sebagai umat muslim. Sepeninggal bulan Ramadhan semua kembali kepada rutinitasnya masing-masing. Tempat-tempat hiburan malam dibuka lebar-lebar, acara-acara tak mendidik distasiun-stasiun tv ditayangkan silih berganti, ceramah-ceramah keagamaan perlahan-lahan dikurangi karena dianggap tidak komersil dan tidak mendatangkan profit. Simbol-simbol kesalehan mulai dilupakan, kita kembali berjudi dengan realitas dan melupakan dogma-dogma agama yang terlalu mengawang-awang.
Saya teringat sepenggal syair lagu yang dilantunkan oleh alm. Chrisye bersama Ahmad Dani.

Jika surga dan neraka
Tak pernah ada
Masihkah kau
Sujud kepada-Nya...

Hidup ibarat hukum ekonomi. Perbuatan baik dibalas pahala dan perbuatan buruk dibalas dosa. Setelah itu nanti diperhitungkan untung ruginya secara akumulatif, untuk kemudian disimpulkan bahwa kita ada diposisi yang mana diakhirat nanti. Bagaimana seandainya apa yang kita lakukan itu salah, dan ternyata tidak ada hitung-hitungan surga dan neraka? Masih maukah kita berpuasa, menjalankan rukun iman, rukun Islam dan berbagi bentuk kesalehan lainnya? Seperti syair diatas, masihkah kita mau sujud kepadaNya? Ataukah lupakan saja surga dan neraka. Mari kita menikmati hidup tanpa aturan, tanpa batasan dan bebas yang sebebas-bebasnya. Seperti analogi diatas, ternyata kita terjebak oleh keadaan yang mewajibkan kita untuk mendadak saleh. Kita dipaksa untuk berdamai dengan keadaan dan melupakan keseharian kita untuk sementara.Sadar ataupun tidak, itulah realitas. Tinggal bagaimana kita memperlakukan bulan ramdahan yang kebetulan mampir dikehidupan kita untuk kesekian kalinya. Semoga saja kita ikhlas dan menjadikan Ramadhan sebagai tonggak awal kesalehan dan bukan sebaliknya hanya menjadi kamuflase sementara sekedar menghormati ayat-ayat Tuhan yang tertulis dalam mahzab-mahzab Al Quran.

Wallahu alam Bissawab

[+/-] Selengkapnya...

I am mine..

My photo
bukanlah siapa-siapa.....

Arsip

Ikutan Yuk....

Stop Bugil

Tuker Link Yuk..

Tinta Perak Blog